Banten, KABAR-PERS.COM – Forum diskusi rutin Senin–Kamis yang diselenggarakan di Sekretariat Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) bersama para sahabat dan kerabat GMRI kini memasuki usia dua tahun. Selama kurun waktu tersebut, forum ini berkembang menjadi ruang dialog yang produktif dalam melahirkan berbagai gagasan, sekaligus mempersiapkan langkah besar berupa Diplomasi Spiritual Global yang akan diawali dengan peluncuran Kitab MA HA IS NA YA pada September 2026. Hingga kini, seluruh persiapan terus dimatangkan.
Selama dua tahun berjalan, forum diskusi yang berlangsung santai namun sarat makna itu telah melahirkan berbagai pemikiran yang diarahkan untuk membangkitkan kesadaran spiritual bangsa Indonesia. GMRI meyakini bahwa penguatan moral dan spiritual merupakan salah satu jalan untuk menghadapi berbagai persoalan bangsa, mulai dari krisis integritas hingga praktik korupsi yang dinilai semakin menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagi GMRI, membangun budaya dialog merupakan langkah yang sangat penting. Setiap peserta diajak untuk saling mendengar, menyimak kritik dengan bijaksana, serta menerima masukan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Kritik tidak dipandang sebagai bentuk permusuhan, melainkan sebagai bagian dari proses mencari kebenaran yang tetap berlandaskan etika, moral, dan akhlak mulia.
Semua proses itu dijalani dengan sikap rendah hati, sederhana, dan bersahaja, sembari menjauhkan diri dari sifat arogan, pongah, maupun merasa paling benar. Karena itu, setiap rencana aksi selalu melalui pembahasan dan kajian secara berulang agar benar-benar memberikan manfaat bagi kepentingan bersama.
GMRI meyakini bahwa keberhasilan bukan hanya diukur dari hasil akhir yang dicapai, tetapi juga dari kualitas proses yang ditempuh. Oleh sebab itu, suasana dialog yang terbuka, cair, dan tidak terikat oleh formalitas yang kaku justru dianggap mampu melahirkan keputusan yang lebih matang serta program aksi yang lebih bermakna.
Dari forum inilah kemudian lahir gagasan penyusunan Kitab MA HA IS NA YA. Sebelumnya, pada 2–3 Agustus 2025 di Auditorium Wisma Antara, Jakarta, telah dilaksanakan pembacaan doa bagi 79 tokoh secara maraton selama 20 jam tanpa henti sebagai bagian dari perjalanan spiritual menuju lahirnya kitab tersebut.
Peluncuran Kitab MA HA IS NA YA selanjutnya direncanakan berlangsung di berbagai daerah, termasuk Yogyakarta. GMRI berharap kitab ini dapat menjadi simbol lahirnya peradaban baru yang lebih mengedepankan nilai-nilai spiritual di tengah kehidupan dunia modern yang dinilai semakin didominasi oleh orientasi material.
Dalam kesehariannya, budaya diskusi GMRI juga dibangun melalui suasana yang sederhana. Sajian seperti wedang beras kencur, pisang rebus, hingga sesekali pepes ikan menjadi pelengkap keakraban. Sapaan seperti Mas, Gus, Romo, hingga Opa menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat, mencerminkan semangat persaudaraan tanpa sekat.
Kesederhanaan tersebut diyakini sebagai bagian dari laku spiritual yang hendak dibumikan dari Nusantara kepada dunia, dengan harapan nilai-nilai spiritual dapat menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban global yang rukun, damai, dan harmonis.
Selama dua tahun penyelenggaraannya, forum diskusi GMRI telah dihadiri oleh berbagai tokoh dari beragam latar belakang, di antaranya Wowok Prastowo, Joyo, Yudhantoro, Brigjen Pol. Benny Iskandar Hasibuan, Letjen TNI Ridho Hermawan, M.Sc., Prof. Yudhi Haryono, Dr. Ishak Rafiq, Zainul Arifin, Wati Salam, Prof. Budi, Achmad Badhowi, Moh. Kholiq, KH. Achmad Ghufron Sembara, Prof. Dr. (HC) KH. Habib Khirzin, dr. Tafauzia, Dr. K.R.T. Roy Suryo, Momok Solo, Asep Syaifullah, Moch. Jafar, Mayjen Darno, Marbawi Taufik, Doel Duantje, Dr. KH. Marsudi Suhud, Dibyo, Indra, Moch. Sunaryo, Yusuf Mujiono, Sri Murdiningsih, Sri Pacifik, Bagus Mulyono, serta sejumlah tokoh dan cendekiawan lainnya.
Seluruh rangkaian diskusi tersebut dipandu oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu, yang dikenal sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara dan kerap disebut sebagai Wali Spiritual.
Dua tahun perjalanan forum diskusi GMRI menjadi catatan penting dalam upaya membangun ruang dialog yang terbuka, sederhana, dan berorientasi pada penguatan nilai-nilai moral serta spiritual. Meski lokasi pertemuan sesekali berpindah, semangat kebersamaan dan konsistensi dalam membangun kesadaran spiritual tetap terjaga hingga hari ini.(Red*/Adm)
(REDAKSI MEDIA KABAR-PERS.COM)
















