Bangka Belitung – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di sejumlah wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung semakin meresahkan masyarakat. Sulitnya memperoleh Pertalite di SPBU membuat banyak warga terpaksa membeli BBM di tingkat pengecer dengan harga berkisar Rp15.000 hingga Rp16.000 per liter, jauh di atas harga resmi yang ditetapkan pemerintah.(Selasa 14/07/2026)
Selain harga yang melambung, masyarakat juga mengeluhkan panjangnya antrean di sejumlah SPBU. Warga mengaku harus mengantre selama berjam-jam di bawah terik matahari hanya untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, kondisi tersebut sangat memberatkan.
“Kami sudah antre dari pagi hingga berjam-jam di bawah terik matahari. Belum tentu juga kebagian Pertalite. Kalau tidak dapat, terpaksa beli di pengecer dengan harga Rp15 ribu sampai Rp16 ribu per liter. Kondisi seperti ini sangat menyulitkan masyarakat,” keluhnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Tim9 Jejak Kasus Babel, Maulana, meminta pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi kelangkaan BBM di Bangka Belitung.
“Kelangkaan Pertalite ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah bersama Pertamina harus segera memastikan distribusi BBM bersubsidi berjalan lancar dan tepat sasaran. Masyarakat tidak seharusnya menjadi korban akibat sulitnya mendapatkan BBM, apalagi harus mengantre berjam-jam di bawah terik matahari,” tegas Maulana.
Maulana juga berharap instansi terkait melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap penyaluran BBM bersubsidi agar tidak terjadi penyimpangan maupun penyalahgunaan yang dapat memicu kelangkaan di lapangan.
Masyarakat berharap Pertamina dan pemerintah daerah segera memberikan penjelasan resmi terkait penyebab kelangkaan Pertalite di Bangka Belitung serta mengambil langkah konkret agar pasokan BBM kembali normal sehingga aktivitas masyarakat tidak lagi terganggu.(Red*/Adm)
(REDAKSI MEDIA KABAR-PERS.COM)
















